Mengenal dan Menunaikan Zakat Mal

Zakat adalah kewajiban untuk setiap umat muslim yang tergolong dalam rukun islam keempat. Zakat berarti sesuatu yang menyucikan, baik untuk mencuci diri (zakat fitrah) dan mencuci harta (zakat mal)

Direktur Utama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Muhammad Arifin Purwakananta menuliskan zakat fitrah diserahkan dalam format bahan makanan pokok. Sedangkan zakat mal diserahkan dalam format uang.

Namun, seiring pertumbuhan zaman, zakat fitrah dapat disalurkan dalam format uang untuk panitia zakat (amil zakat) guna selanjutnya dibelikan bahan makanan pokok oleh amil zakat.

“Zakat atas jiwa tersebut apa yang anda sebut zakat fitrah. Ada zakat atas harta atau dalam bahasa arabnya zakat mal. Itu zakat yang diharuskan jika orang menjangkau jumlah kepemilikan harta tertentu,” jelasnya, belum lama ini.

Ia menuturkan zakat mal terdiri atas sejumlah jenis, mencakup zakat atas harta simpanan, zakat atas penghasilan, zakat hasil pertambangan, zakat hasil perniagaan, zakat hasil pertanian, zakat hasil ternak, dan sebagainya.

Setiap jenis zakat mempunyai rumus perhitungannya masing-masing. Namun, secara umum masyarakat lebih tidak sedikit memberikan zakat mal dan zakat penghasilan.

Untuk setiap formula perhitungan zakat, amil zakat seringkali akan menolong orang muslim dalam menghitung zakat. Namun demikian, ayo ketahui dasar perhitungan zakat tersebut.

Untuk zakat mal, lanjutnya, mesti dikeluarkan andai seorang muslim telah menjangkau batasan wajib menerbitkan zakat (nisab). Ia menyatakan nisab zakat mal ialah jika seorang muslim mempunyai harta setara 85 gram emas 24 karat dalam kurun masa-masa (haul) satu tahun.

Harta yang dimaksud meliputi sekian banyak  jenis, baik duit tunai, tabungan, emas, surat berharga, properti, dan lainnya. Misalnya, seorang muslim terdaftar mempunyai total harta kekayaan senilai Rp100 juta dalam satu tahun.

Sedangkan satu gram emas dipasarkan sebesar Rp664 ribu, sampai-sampai 85 gram emas setara Rp56,44 juta. Itu berarti, harta orang muslim tersebut sudah melebihi nisab, sampai-sampai ia mesti untuk menerbitkan zakat atas harta simpanannya.

“Orang bila menyimpan duit lebih dari nisabnya, maka ia mesti berzakat sebesar 2,5 persen dari hartanya,” tutur Arifin.

Ia melanjutkan masyarakat dapat menyalurkan zakat mal untuk amil zakat melewati datang langsung ke kantor amil zakat, maupun melewati transfer bank dan layanan finansial digital (financial technology/fintech), baik dari amil maupun dari sejumlah perusahaan fintech yang meluangkan layanan zakat digital.

Berbeda dengan zakat fitrah yang wajib ditunaikan saat ramadan. Di samping itu, masa-masa pengeluaran zakat mal pun tidak diberi batas jadi dapat dikeluarkan sepanjang tahun saat jumlah harta seorang muslim telah menjangkau nisab.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengalirkan zakat untuk lembaga amil resmi. Tujuannya, supaya zakat yang disalurkan tidak berhenti melulu untuk konsumsi penerima zakat (mustahiq).

“Kalau zakat dihimpun untuk badan amil zakat nasional dan lembaga amil zakat lain, dapat dikumpulkan kemudian disalurkan dalam format pembangunan lokasi tinggal sakit, klinik, sekolah, atau modal usaha yang lebih bermanfaat untuk mereka. Tapi bila jadi konsumsi dimakan kelak habis,” jelasnya.

Tahun lalu, Baznas tercatat sudah menghimpun duit zakat sebesar Rp8,17 trilun. Tahun ini, targetnya naik menjadi Rp9 triliun. Uang zakat itu dihimpun dari tidak cukup lebih 10 juta muzakki (orang yang menerbitkan zakat) dari semua Indonesia.

“Kami perkirakan selama 10 juta orang telah zakat melewati lembaga amil zakat, di mana 3 juta orang menyerahkan namanya dan 7 juta tidak menyetor namanya seringkali hanya menyinggung Hamba Allah,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *